Home » » Abah Muksin, Putus Mata Rantai Prostitusi melalui Pendidikan

Abah Muksin, Putus Mata Rantai Prostitusi melalui Pendidikan

Memutuskan mata rantai prostitusi memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Namun seorang pria di Surabaya percaya, melalui pendidikan yang baik kepada anak-anak di sekitar lokalisasi dapat mewujudkan cita-citanya.

Di tengah-tengah komplek lokalisasi,  di  Bangun Rejo,  Surabaya. Sejak tahun 1985, Abah Muksin  (60) mengelola lembaga pendidikan gratis bagi anak-anak dari para pekerja seks komersial (PSK) di lokasi tersebut, termasuk  anak-anak yatim dan kurang mampu. 

Tawaran mengelola yayasan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sabilas Salamah, setelah pengelola sebelumnya meninggal dunia, pada awalnya ditolak oleh Abah Muksin. Hingga suatu ketika, saat ia akan berangkat kerja, ada seorang pria berkelahi sampai mati karena rebutan PSK, ia kemudian merenung dan berfikir. Sampai kapan akan begini? Setiap hari ada perkelahian, ada minuman keras, perjudian yang marak dari utara sampai selatan kampung. Sedangkan di sisi lain, banyak anak-anak terlantar. Akhirnya ia tersentuh dan mau menerima tawaran tersebut.

Dalam mendidik anak-anak kurang beruntung tersebut, Abah Muksin  mengaku lebih mengutamakan pelajaran  akhlak bagi para  murid-muridnya, lalu  setelah  itu pelajaran akidah.  Setiap anak diwajibkan melakukan sholat di depan orang tuanya, supaya  orang tuanya tersentuh.

Mulanya sekolah itu hanya memiliki dua kelas yang dipakai bergantian. Dengan bantuan donatur, kini sekolah itu berkembang bahkan hingga dua lantai. Tapi jangan kira semua dilaluinya dengan mudah. Cobaan pertama datang, tanah yang digunakan yayasan ternyata dijual pemiliknya. Akhirnya sekolah ia pindahkan di rumah pribadinya di Dupak Bangunrejo 46, yang saat itu jumlah muridnya baru 49 orang.

Sempat dibenci dan ditinggalkan oleh keluarganya, Abah Muksin pun berangkat ke Jakarta dengan membawa proposal minta sumbangan. Perjuangan Abah Muksin yang cukup berat mempertahankan sekolah yang juga pernah dibakar oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Beruntung, gedung sekolah masih bisa diselamatkan. Hanya meja dan buku anak-anak saja yang habis terbakar.

Yayasan Sabilas Salamah kini tercatat sudah mempunyai 377 siswa untuk Madrasah Ibtidaiyah, 91 siswa untuk Taman Kanak Kanak, dan 160 siswa untuk play group. Sedangkan jumlah gurunya saat ini ada 21 orang. Seiring dengan perkembangannya, Abah Muksin sadar bahwa tantangan yang harus dihadapi bukan semakin ringan. Tantangan lain lebih berat lagi karena ia telah dipercaya masyarakat mengelola lembaga pendidikan, maka ia harus bisa mengembangkan yayasan ini agar lebih besar lagi. 




Share this on :

Post a Comment

 
Copyright © 2011. Berbagi Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template