Home » » Kucing… Aduh!

Kucing… Aduh!

Kucing… Aduh!

Oleh : Ugik Madyo

Pagi ini jalanan agak lengang. Saya melirik jam tangan, masih jam 6:15. Jalan selengang ini, saya bisa sampai kantor dalam waktu 15 menit. Kalau sedikit ngebut bisa cuma lima belas menit. Lumayan... setengah jam buat sarapan. Bisa sarapan sambil baca koran nih. Terbayang soto Madura depan kantor yang mengepul panas. Uenak-e.

Saya menambah kecepatan, mengambil arah kiri terus. Kalau lengang begini biasanya mobil-mobil berjalan kencang. Tiba-tiba mobil box di depan mengerem mendadak. Saya kaget. Spontan menginjak rem dan tangan menekan kuat rem tangan. Motor oleng tanpa bisa dikendalikan. Badan ini terdorong kedepan serasa melayang. Aduh... kejadian deh. 
Saya blank. Tiba-tiba saja sudah tengkurap diaspal, pas dikanan wajah ban mobil diiringi decitan rem yang memekakkan telinga. Mati dah aku. Saya tutup mata sekuat-kuatnya. Banyak suara di sekitar. Hiruk pikuk tidak jelas. Telinga saya masih berdenging.

”Mbak... mbak....” bahu saya ditepuk-tepuk. Saya membuka mata berlahan. Seorang polisi berjongkok di depan. Spontan saya berusaha bangkit. Terasa nyeri di pergelangan tangan kiri.
”Pelan-pelan Mbak.” saya mengangkat tubuh perlahan. Sedikit tertatih, saya dibantu naik ke trotoar. Saya memilih duduk bersandar dibawah pohon. Polisi tersebut menyerahkan kunci motor. 100m arah kiri, motor kesayangan sudah terparkir di halaman sebuah rumah. Entah seberapa kerusakannya, saya tidak peduli.

Saya periksa kondisi badan. Hanya pergelangan tangan kiri yang terasa nyeri. Saya cek lebih seksama, posisi tulangnya masih sempurna. Alhamdulillah, mungkin cuma keseleo sedikit. Bapak polisi tadi membantu untuk melepas kaitan tali helm. Seorang Ibu menyodorkan tisyu. Saya memandangnya keheranan.

”Bibirnya berdarah, Mbak.” reflek jari kanan naik kebibir. Terlihat cairan merah di jari telunjuk dan tengah. Ada ceceran merah di baju bagian depan juga. Bibir atas memang terasa tebal dari tadi, tapi tidak menyangka kalau ternyata ada luka terbuka.

”Terima Kasih.” saya berucap lirih. Huh. Bibir terasa perih waktu digerakkan. Seorang Bapak menyodorkan air mineral gelas. Saya menolaknya, teringat botol minuman mineral yang masih utuh diransel. Biar itu buat orang lain saja. Sambil menghentikan darah di bibir saya luruskan kaki. 
Saya mulai mendeteksi lingkungan di sekitar. Pas didepan ada mobil box yang tadi ngerem mendadak. Ada seorang laki-laki yang berjongkok di dekat ban kiri mobil tersebut. Lalu seorang laki-laki setengah baya berbicara dengan nada tinggi sambil berkacak pinggang. Dibelakang mobil box itu, ada mobil van keluarga. Di belakang van ada sebuah sedan.

Ketiganyanya terdiam agak ketengah dalam posisi merapat. Ternyata rame juga ya ’kejatuhan’ saya tadi. Seorang pria muda menuntun sepeda motornya, dibantu dua orang yang memegang roda depan motor tersebut. Roda depannya peyok, bentuknya sudah tidak beraturan. ”BRAKK”. Spontan saya menoloh ke arah suara. Lelaki yang berkacak pinggang tadi memukul badan mobil box. Wuiih. Kuat juga ya, tangan untuk memukul mobil. 
Bersama seorang Ibu dan Bapak-bapak, saya menghampiri keramaian tadi. Kalau dari trotoar audio tidak jelas, kalah dengan klakson dan deru kendaraan. Kan gak asyik. Serasa nonton film bisu berwarna saja.

Seorang polisi menenangkan lelaki berkacak pinggang. Sementara polisi yang lain berjongkok di depan Bapak yang dari tadi tak lepas memandang kearah kolong mobil.
”Gimana mau sabar! Bapak yang tegas donk!” lelaki bersuara tinggi itu memandang judes polisi di depannya.
”Pak. Kita pinggirkan dulu mobilnya, ya. biar tidak macet.” Polisi yang berjongkok menepuk punggung pria disampingnya lembut.
”Nggak bisa Pak. Kucingnya nggak mau keluar. Nanti kalau kelindes roda, gimana?”
”Saya awasi kucingnya, Bapak pindahkan mobilnya ke pinggir.” Pak Polisi tersenyum lembut.
”Bapak aja yang mindahin mobilnya. Saya nggak berani.” wajah lelaki tua itu bergidik ngeri. Polisi tersebut mengambil kunci kontak mobil dan memindahkan mobil dengan interuksi heboh bapak tua.

Akhirnya mobil tersebut bisa dipinggirkan, kucing yang meringkuk ketakutan berada di gendongan bapak tua. Sedangkan mobil-mobil ringsek di belakangnya dipinggirkan semua. Lalu lintas pun lancar kembali.

Kami semua korban kecelakaan beruntun dikumpulkan dua polisi di teras rumah seorang penduduk. Baru saya tahu kemudian. Mobil box itu berhenti mendadak karena ada kucing yang sedang menyeberang. Sopir sangat ketakutan kalau sampai menabrak kucing. Memang ada mitos yang beredar kalau menabrak kucing di jalan raya hingga mati, maka pengemudi yang menabrak akan mengalami nasib sial. Mesti itu hanya cerita turun temurun tanpa ada dasar bukti. Namun banyak orang yang sangat mempercayai cerita tersebut.

Suatu hal yang tak bisa dipersalahkan ketika seseorang memegang kuat sebuah kepercayaan. Namun bila kepercayaan itu hampir menghilangkan nyawa manusia dan menimbulkan banyak kerugian setelahnya. Apakah layak kita tetap mempertahankan kepercayaan itu. Bukan berarti saya tidak berperi kekucingan. Mungkin saja, kita perlu mengkaji ulang prioritas kepercayaan tersebut.

Pertemuan masih terus berlangsung. Beberapa orang masih ngotot untuk menuntut ganti rugi. Sementara bapak tua itu hanya bisa pasrah dengan wajah hampa. Saya dan beberapa orang memilih untuk meninggalkan pertemuan dan melanjutkan perjalanan. Saya memilih pergi karena tak ada gunanya pula saya tetap disini. Bapak tua itu sudah menegaskan diawal, tak mampu untuk membayar segala kerugian. Dia hanya bersikap spontan berdasarkan kepercayaan yang sudah mendarah daging seumur hidupnya. Beliau tak akan pernah menyangka bahwa tindakannya akan merugikan orang banyak. Semoga saja setelah ini Bapak tua itu lebih bijak dalam ’memegang’ sebuah kepercayaan. 

Share this on :

Post a Comment

 
Copyright © 2011. Berbagi Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template