Home » » Didit Hape Membina Anak Jalanan Agar Tak Lagi Kembali ke Jalanan

Didit Hape Membina Anak Jalanan Agar Tak Lagi Kembali ke Jalanan

Di usia yang sudah tidak lagi muda, Didit Hari Purnomo alias Didit Hape atau lebih dikenal dengan panggilan Om Didit ini masih berpenampilan nyentrik, dengan rambut gondrong dikuncir. Mengenakan topi dan kemeja yang digulung khas seniman, mantan wartawan ini menyalami dan mencium rambut anak-anak yang mulai memasuki rumah di dekat terminal Joyoboyo Surabaya tersebut.

Om Didit selalu membiasakan anak asuhnya mencium tangannya setiap kali ketemu, dan mengucap salam. Kemudian ia berusaha memeluk dan mencium rambut mereka sebagaimana memperlakukan pada anaknya sendiri. Hal ini dilakukannya untuk menilai kebersihan badan anak-anak didikmya tersebut. 

"Jika mereka saya cium rambutnya ternyata masih bau, berarti mereka tidak mandi. Mereka kemudian saya ingatkan, agar mandi dan sikat gigi terlebih dulu sebelum tampil mengamen atau mengasong,” kata Om Didit.

Sejak tanggal 16 April 1999 Didit Hape mendirikan Sanggar Alang-Alang (SAA) yang bertujuan menyediakan pendidikan gratis untuk anak-anak jalanan. SAA menjadi rumah tempat makanan, seragam, ruang belajar, dan ruang bermain cuma-cuma bagi mereka. Untuk menggantikan biaya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP), Om Didit hanya menuntut satu hal dari anak-anaknya, yakni bersikap sopan.

SAA menitikberatkan pada ilmu-ilmu praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan anak jalanan. Ia menyebutnya sebagai pelajaran etika dan estetika. Om Didit menekankan empat mata pelajaran praktik langsung, yaitu: etika (terkait tindakan atau perilaku), estetika (soal keindahan diri, lingkungan, dan kebersihan), norma (terkait budaya, adat, peraturan dan hukum), agama (terkait kepercayaan kepada Tuhan). Cara memberi pelajaran disesuaikan dengan dunia anak jalanan. Kepada anak-anak jalanan dan gelandangan itu, diajarkan olah vokal dan main musik yang baik dan benar.

Om Didit membatasi pembinaan sampai anak mencapai usia 18 tahun. Lewat dari itu, mereka dianggap sudah lulus dan siap bekerja. Saat ini, di pojok barat Terminal Joyoboyo Surabaya, tempat Sanggar Alang Alang bermarkas, 60-an anak jalanan dan gelandangan dibina. Dulu 170-an. ”Sudah banyak yang lulus dan bekerja,” kata Didit.


Namun demikian, berkecimpung di dunia jalanan tidaklah mudah. Ia menceritakan awal-awal berkenalan dengan anak-anak jalanan di terminal Joyoboyo. Sejak itu, setiap malam Om Didit mulai mengajari banyak hal. Banyak orang menamai mereka ”komunitas sekolah malam”. Bersamaan dengan itu pula banyak orang yang tidak suka dengan apa yang dilakukannya, terutama para preman di terminal. Tak jarang Om Didit dan anak didiknya mendapat lemparan botol minuman keras dari orang-orang yang mabuk.

Menariknya, Om Didit selalu menolak istilah anak jalanan. Yang benar, kata ia, ANAK NEGERI. Om Didit mengacu pada pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 tentang kewajiban negara untuk memelihara dan mengasuh anak-anak telantar serta fakir miskin.

"Kalau ada pegawai negeri, yang dipelihara negara, kenapa tidak ada ANAK NEGERI, yang juga dipelihara negara? Ini amanat UUD 1945 lho," tegas Om Didit.

Share this on :

Post a Comment

 
Copyright © 2011. Berbagi Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template