Home » » Lebih Baik Diam

Lebih Baik Diam

Lebih Baik Diam

Oleh : Ugik madyo

“Aduh!” saya menekan speed dial 3 di telefon seluler dengan panik. Begitu tersambung, saya mengijinkan lawan bicara menyebut hallo saja. 

“Kejam sekali orang itu, nulis kayak gitu. Itu fitnah! Kejam sekali orang itu. Setelah semua yang sudah kamu lakukan buat dia. Jungkir balik kamu nolongin dia. Trus dia nulis kayak gitu apa sih maunya? Kenapa dia...” suara kalem di seberang menghentikan saya. Setengah jam lagi temui aku di Taman Flora. Klik! Saya terdiam beberapa detik mencerna ucapannya barusan. Saya ngumpat-umpat dalam hati sambil menyambar tas dan jaket lalu, segera melaju kencang ke tempat yang di tentukan.

Saya berjalan tergesa dari tempat parkir sembari mengeluarkan perangkat seluler.
“Kamu di mana?” saya menutup telefon seluler dan berjalan tergesa ke kolam ikan. Sesosok tubuh berdiri tegak di pinggir kolam sambil melipat kedua tangan di dada. Dia menghampiri dan memeluk serta mencium kedua pipiku dengan hangat. Nampak jelas matanya yang merah dan kelopak matanya sedikit bengkak. Saya memeluk bahunya dan menggiring pelan ke tempat duduk di sisi selatan taman. 
“Dia telefon aku. Itu bukan dia. Ada orang lain yang pake IDnya.”
“Pengecut! Pake ID orang buat nyebar fitnah. Kamu percaya sama dia?” Saya menghentikan langkah, memutar bahunya dan mencari kebenaran di matanya.
“Ya. Hanya ucapannya yang bisa aku percaya saat ini. Aku tahu betul, itu bukan gaya bahasanya. Kamu percaya aku kan?”
“Ya. Always.” saya tersenyum. Saya tahu betul sahabatku ini. Tak pernah satu kali pun saya meragukannya. Kami duduk berhadapan di bangku panjang. 
Dia merogoh tas, mengambil telefon selulernya dan mengutak-atik sebentar lalu mengangsurkan ke depanku. Saya membaca beberapa tulisan yang tertera di layar. Saya hanya bisa menghela nafas panjang. Setiap kali saya mendongak ketika selesai membaca, dia mengambil gadget itu lalu mengutak-atik sebentar. Kemudian memberikan lagi pada saya. Beberapa kali hal ini terjadi. Saya mencerna begitu banyak kata yang berseliweran dengan cepat. 
“Ada lagi?” dia hanya tersenyum sambil menggeleng. Darah ini mendidih rasanya, “Ini semua tidak benar. Kamu harus jelaskan sampai mereka semua paham apa yang terjadi sebenarnya.” 
“Nggak perlu.” dia menatap tajam ke arahku, “Sahabatku sendiri yang sudah aku jelaskan panjang lebar tetap tidak percaya. Mereka lebih percaya sama omongan orang lain, daripada omonganku. Itu sahabatku! Apalagi orang lain, yang nggak kenal betul siapa aku.” suaranya parau menahan tangis.
Saya memegang erat telapak tangannya. Air mata menggenang di kelopak matanya. Saya terdiam dan berharap tanganku bisa menyalurkan sedikit energi untuk menguatkan dirinya.
“Terus... “
“Aku akan diam saja.” dia menghela nafas.
“Tapi... di luar sana, kamu tuh udah di cap nyebarin berita bohong.” saya gemas betul dengan diamnya kali ini. 
“Biarin aja. Ntar juga kelihatan sapa yang bener, sapa yang salah. Percuma juga aku ngomong. Mereka lebih percaya mulut orang lain dari pada mulutku sendiri. ” dia tersenyum dan menggendikkan bahu. Saya ikut tersenyum juga. Saya tahu betul, perkataannya tidak bohong meski dia tak bisa membeberkan bukti-bukti ucapannya untuk saat ini. 
“Sorry, kalau pertanyaanku bernada meragukan. Kamu kuat menghadapi semua ini?”
“Kuat nggak kuat, ya harus kuat. Mau gimana lagi.” dia menepuk-tepuk punggung tangan saya yang memegang erat tangan kanannya. Senyum kembali hadir. Saya yakin, dia memang kuat menghadapi ‘badai’ di depan sana.  
 
Saya mengikuti permasalahan ini dari awal. Sebenarnya, saya tidak terima dengan sikap diam sahabat saya ini. Kalau boleh memilih saya akan mendatangi mereka dan menjelaskan dengan panjang lebar. Tentu saja langkah ini beresiko. Mereka bisa saja percaya tapi bisa juga malah semakin menyudutkan sahabat saya. Mereka bisa saja mengganggap apa yang dilakukan sahabat saya adalah untuk membela diri dari kesalahan yang dilakukannya. Hmm... mungkin memang benar apa yang dilakukan sahabat saya. 
Diam. Hanya itu saja. Banyak mata yang menyorot tajam. Banyak bibir yang berucap pedas. Diam hanya mengijinkan seseorang untuk bersikap harus mengabaikan semua itu. Tidak mudah tapi mungkin juga tidak berat. Ketika kita tahu betul tentang satu hal tapi kita harus diam dengan terpaksa bukankah ini sesuatu yang sangat menyiksa. Pada awalnya saya melihat sahabat saya tertekan dengan kondisi ini. Beberapa kali dia lepas kendali. Padahal dia seorang yang sangat jarang marah. Suatu kondisi yang manusiawi. Sebulan dua bulan, kondisinya berangsur tenang. Hebat! Hanya dalam tempo secepat itu dia sudah bisa menguasai diri. Kalau saya sih… mana tahan. 
Meski tak bisa dipungkiri, ada kepedihan yang dia sembunyikan. Diam dan menyerahkan pada waktu untuk menunjukkan pihak yang memang benar dan sebetulnya salah. Satu hal yang saya yakini. Tuhan tak pernah mengijinkan siapapun di muka bumi ini menyembunyikan keburukan terlalu lama. Segala hal kebohongan pasti akan terungkap pada saatnya nanti. 

Saya masih asyik browsing ketika sesosok tubuh membuka pintu dengan tiba-tiba, menghampiri saya secepat kilat sembari meletakkan koran di atas keyboard. Jari telunjuknya menunjuk headline koran tersebut, VIDEO MESRA SEORANG PEJABAT TERAS DENGAN WANITA SIMPANANNYA TERSEBAR DI DUNIA MAYA. Beberapa foto buram terpajang disana. Saya melihatnya lekat-lekat. Berbagai pikiran berkecambuk. Berbagai kemungkinan menari liar.
Dahi ini berlipat semakin banyak. Dia mengambil koran tersebut dan menggeser keyboard, tangan lincah menekan beberapa huruf. Sebuah situs pengunggah video terbentang di layar. Sebuah nama dia ketikkan di kolom pencarian. Tak perlu waktu lama. Sebentuk wajah wanita terlihat dengan jelas. Bulu kuduk saya meremang. Buru-buru saya meraih mouse dan menekan play. Gila! Sepanjang video, wajah kedua orang tersebut terlihat jelas. Sangat jelas. Tak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulut ini. Jari telunjuk kiri menunjuk-tunjuk sementara saya menatap sahabat di samping yang mengulas senyum dengan wajah cerah.
“Tuhan tidak pernah tidur. ‘Tangan Tuhan‘ selalu menolong dengan cara yang tak terduga pada saat yang tepat.” saya berteriak keras. Hanya itu yang bisa saya lakukan. Blank. Otak saya tiba-tiba tidak bisa memproduksi kata. Saya berdiri dan memeluknya. Kami berpelukan sambil melompat-lompat. Tertawa-tawa dengan air mata berderai-derai. Ntah lah, emosi macam apa ini. Lega... itu saja yang kami rasakan. Selesai sudah tekanan selama ini. Kami tak perlu lagi diam dan berpura-pura acuh dengan tatapan-tatapan tajam atau pun sindiran menyayat hati. Selesai sudah. The end.       

 
 
     
  

Share this on :

Post a Comment

 
Copyright © 2011. Berbagi Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template