Home » » Bidan Rosmiati, Menggagas Kemandirian Warga Miskin Riau

Bidan Rosmiati, Menggagas Kemandirian Warga Miskin Riau

image: beritalima.com
Bidan Rosmiati adalah Alumnus D3 Akademi Kebidanan Padang 2007 yang kemudian mengabdikan dirinya di daerah terpencil, Desa Tunggal Rahayu Jaya, Teluk Belengkong, Indragiri Hilir, Riau. Tepatnya pada tahun 2008 ia menjadi bidan PTT (pegawai tidak tetap) di Pemkab Indragiri Hilir dan ditempatkan di desa terpencil di tengah hutan itu.

Di desa dengan sekitar 1.030 jiwa penduduk itu Bidan Rosmiati dihadapkan pada kondisi kesehatan masyarakat setempat yang memprihatinkan, yakni angka kematian ibu dan bayi baru lahir yang cukup besar. Pernah ia diminta menolong menangani kasus kelahiran di pedalaman kebun sawit, yang terjadi di kecamatan tetangga. Padahal, untuk sampai ke lokasi pasien, ia harus naik motor dengan jalan tanah yang bergelombang. Karena belum hafal jalan, Rosmiati dan si pengantar berkali-kali tersesat di tengah hutan. Setelah sampai di lokasi, ternyata sudah enam jam ari-ari si bayi tidak keluar dari rahim ibunya.

Syukurlah, bayi tersebut telah berhasil dikeluarkan dengan selamat berkat bantuan dukun. Tanpa pikir panjang, Rosmiati langsung merujuk ibu yang kritis itu ke RSUD Pemkab Indragiri Hilir. Namun, evakuasinya sungguh berat. Sebab, di desa tersebut tidak ada ambulans yang siaga. Evakuasi terpaksa dilakukan dengan cara manual. Pasien dibawa ke rumah sakit dengan ditandu warga. Agar tidak kepanasan, pasien dipayungi dengan dedaunan seadanya. Selama hampir dua jam perjalanan, rombongan pasien akhirnya sampai di bibir sungai. Mereka harus menyeberangi sungai yang dalam dan deras untuk bisa menuju RSUD Pemkab Indragiri Hilir. Nahas bagi si ibu, karena penyeberangan itu butuh waktu yang sangat lama, lebih dari empat jam, ia kehabisan darah dan meninggal di atas perahu.

Sejak itu ia bersemangat mengkampanyekan agar warga yang bersedia mempersiapkan persalinan. Diantaranya menyiapkan dana persalinan mengingat biaya transportasi dan akomodasi di daerah terisolir tersebut cukup mahal. 

Bidan Rosmiati kemudian membuat program Tabungan Ibu Bersalin, yang ditujukan khusus bagi ibu-ibu akan menjalani persalinan. Tabungan itu ia gulirkan melalui musyawarah dengan pemerintah setempat dan warga khususnya para ibu-ibu, setahun berselang sejak dia ditugaskan di desa itu pada 2008. Baik pemerintah desa maupun warga pun menyambut baik dan menjalaninya dengan antusias. Apalagi, tabungan tersebut disesuaikan dengan kemampuan masing-masing warga.

Selain itu, ia juga menawarkan program Dana Sehat, yang ditujukan bagi seluruh penduduk Desa Tunggal Rahayu Jaya. Untuk mengikuti kedua program itu, setiap Kepala Keluarga (KK) Desa Tunggal Rahayu Jaya cukup menyisihkan uang sebesar Rp 2 ribu per bulan.

Dari dana yang terkumpul itulah, yang menjadi bantuan biaya pengobatan bagi sebagian warga yang sakit. Biasanya bantuan tersebut berjumlah Rp 200 ribu-Rp 400 ribu/pasien.

Setelah kehadiran Rosmiati, masyarakat Desa Tunggal Rahayu Jaya menjadi terbiasa menabung dan saling membantu antarwarga, untuk keperluan kesehatan. Baik berdasarkan catatan resmi pemerintah desa maupun keterangan warga, kematian ibu melahirkan dan balita pun nol alias tak ada lagi.

Sebagai satu-satunya tenaga medis di desa terpencil dengan tingkat kehamilan warganya yang rapat serta ancaman berbagai penyakit, ia berharap ada penambahan jam singgah perahu atau speedboat ambulans. Selama ini, ambulans terapung masih langka karena harus melayani desa-desa lain di kecamatan itu. Jika di setiap desa ada satu ambulans terapung yang siaga 24 jam, pasien yang dirujuk ke RSUD pun akan cepat tertangani.

Share this on :

Post a Comment

 
Copyright © 2011. Berbagi Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template