Home » » Formula Mencipta TREN, Buka Langsung LARIS oleh Jaya Setiabudi (4)

Formula Mencipta TREN, Buka Langsung LARIS oleh Jaya Setiabudi (4)

Formula Mencipta TREN, Buka Langsung LARIS yang ke 4 adalah MEREK YANG NGETOP. Materi ini ada di buku kedua Jaya Setiabudi Kitab Anti Bangkrut hal 115 #BOOMING 

Untuk menjelaskan materi ini, coba Anda membayangkan, Anda berada di suatu kota yang asing, kemudian Anda mencari sebuah salon. .Kebetulan di sepanjang jalan, berjajar 5 salon dengan nama yang berbeda-beda. Mana yang Anda pilih berikut ini?

Salon GATOT, Salon TINCE, Salon LISA?

Yang jawab Gatot, pasti jarang yang cewek, karena namanya maskulin banget, beda kalo namanya Rudy, meski cowok juga.
Yang jawab Lisa, bisa cewek atau cowok, biasanya alasan serupa: Cantik..! Tapi kalo cowok jawab Lisa, motifnya akan beda: kebanyakan ganjen, bisa juga karena Lisa lebih rapi dari Gatot atau Tince.
Yang jawab Tince, ada dua alasan nih: Percaya kalo Bencong lebih pinter nyalon atau Anda bencong juga.

Bagaimana kalo pilihan ke 4 adalah ANGELINA? Waah, mulai tergoda ANGELINA kan?
Menurut survei yg saya lakukan: Angelina lebih terdengar cantik daripada Lisa
Yang tetap memilih Lisa juga punya alasan bermacam2, salah satunya: Angelina berkesan lebih mahal deh.

Lalu, bagaimana kalo pilihan ke 5, namanya Salon GSC? >> itu buat manusia apa mobil yah? Prett..

Nah tuh, terbukti dengan mengubah NAMA/MEREK PRODUK saja, orang sudah beda penafsiran & OMZET. Betul? Padahal jelas2 dari tadi belum dideskripsikan produk atau servis di dalamnya. Baru nama saja.

Trus apa poin-poin pemilihan Merek yang ngeTOP? Berikut 6 ATURAN MEREK YANG NGETOP. 

1. Sesuai dengan Target Pasarnya, Misal: wanita, 25-35, feminim, mid class, karir, kira-kira lebih cocok merek apa?

2. Terasosiasi oleh Diferensiasi, Bagaimana orang yang mendengar/melihat, langsung ‘ngeh’ apa spesial dibanding merek lain. 
Misal: Oseng Mercon, terasosiasi oleh pedasnya. Nasi Kalong, hitam, buka di malam hari. 
Bukan asal buat nama, tapi gak nyambung. Ya bisa aja laris, tapi sangat disayangkan tidak dapat Leveragenya.

3. Hindari Singkatan Konsonan, Selain sukar diingat, juga sukar terasosiasi oleh produknya. 
Salon GSC > kayak apa ya? Parahnya ternyata berjejer toko GCS, CGS, GSC, SGC, pusing deh, Mana yang benar ya? >> membingungkan. 
Bagaimana dengan HSBC? Selain HSBC disingkat setelah terkenal, juga tidak ada yang mirip, karena produknya tidak mudah ditiru.

4. Hindari Angka, Mirip dengan singkatan konsonan, sukar diingat & tak terasosiasi oleh produknya. 
Tau BAKPIA PATOK? Nomor berapa yang asli atau pertama? 25, 35, 45, 65, 75, 52? Bingung kan? Jawabnya: 75 yang pertama, tapi 25 yang populer sekarang, karena pemasarannya jago! 
Lah Es Teler 77 tetap nomor 1 tuh! >> Karena nggak ada pesaing/follower yang sebanding saat awal 

5. Unik, kalau disebut "rawon", apa yang ada di benak Anda? Yup, Rawon Setan! Meskipun Anda belum pernah mencicipi.
Soto Gebrak membuat penasaran, karena ritual (konteks) gebrakannya. Perkedel Bondon (maaf, juga disebut perkedel hostes) di Bandung, hanya buka jam 12 sampai jam 2 dini hari, ludes!
Tak harus berkonotasi negatif. Bisa saja Anda buat Rawon Malaikat, buka di samping Rawon Setan, kemudian kasih sign board >> Pilih Neraka atau Surga..? Laris..!

6. Mudah diucapkan dan diingat, Coba baca 10 kali dengan cepat: Nasakasaskiskasà keriting deh lidahnya.

Merek yang ngeTOP membuat orang penasaran untuk membeli, tapi Produk yang Ngangenin yang membuat orang kembali lagi. Ingat! Formula ini adalah Urutan dan Syarat Mutlak untuk #BOOMING dengan cepat dan tetap bertahan.

Jaya Setiabudi
Founder & Director Young Entrepreneur Academy (YEA)
Founder & Master Trainer Entrepreneur Camp (ECamp)
Founder Yukbisnis.com
Penulis buku Best Seller The Power Of Kepepet, Kitab Anti Bangkrut

Share this on :

Post a Comment

 
Copyright © 2011. Berbagi Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template