Home » » Setiap Wanita adalah Cantik Adanya

Setiap Wanita adalah Cantik Adanya

Setiap Wanita adalah Cantik Adanya

Oleh : Ugik Madyo

Seorang teman berdiri tegak dihadapan saya.
“Aku cantik kan Gik? Aku gak gendut kan?” Saya hanya terdiam memandangnya. Bagi saya dia adalah sosok yang menawan. Wajah manis dengan tubuh berisi tapi bukan gendut. Bagi saya tidak ada manusia gendut, hanya lebih berisi saja dari ukuran proposional. Saya enggan untuk menggunakan label negative pada seseorang. Dia adalah wanita matang yang selalu ceria dan energik. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Kulitnya sawo matang dipadu dengan wajah bulat njawani, yang membuat dia semakin eksotik.

“Kamu itu nggak cantik. Tapi mempesona.” Saya menariknya ke cermin besar. Menariknya dan memperlihatkan kecantikannya. Dia tetap saja menyangkal. Yang pipi tembem lah. Hidung besar lah dan banyak lagi. Saya tidak menyalahkan sahabat saya ini. Dia baru saja di tolak mantan calon suaminya. Dengan alasan dia gendut dan tidak putih. Meski saya tahu bagaimana remuk redam hatinya. Tapi saya sangat bahagia mereka tidak jadi menikah. Sahabat saya tak layak mendapatkan pria seperti itu. Seorang pria yang hanya menilai seseorang hanya dari kulit luarnya saja. Meski saya harus bersusah payah  membangkitkan kepercayaan dirinya yang jatuh puluhan derajat di bawah nol. Selama 1 tahun dia berjuang, hingga dia bisa berdiri tegak dengan kepercayaan diri penuh seperti sedia kala. 

Saya tidak menyangka hanya karena 2 kata itu. Saya melihatnya terperosok dalam jurang rendah diri yang dalam dan tak berujung. Saya saksi hidup yang melihatnya berjuang. Sedikit demi sedikit dia mulai membangun kepercayaan diri. Meski beberapa kali saya melihatnya jatuh tersuruk. Dia menatap saya dan berbicara dengan keras. Dia diet dan olah raga mati-matian serta melakukan berbagai perawatan wajah. Namun tetap saja dia merasa masih tetap gemuk dan tidak cantik. Saya merasa ngeri dengan apa yang dia lakukan. Dia menjadi sosok yang sangat tidak menawan. Saya seperti melihat boneka hidup. Seonggok tubuh dengan daging tanpa ada aliran kehidupan didalamnya. Tidak ada cahaya sama sekali dalam dirinya. Dia menjadi terobsesi dengan tubuhnya. 
Saya merindukan sosoknya yang dulu. Yang selalu ceria dan mempesona. Yang selalu bersinar dengan senyuman yang tak pernah hilang. Dia terlalu sibuk dengan jadwal senam, pil-pil pelangsing dan juga urusan salon serta make up. Saya tak berhenti memanjatkan doa, agar dia kembali seperti dulu. Untunglah tidak lama kemudian doa saya terjawab. Kami sedang ‘kencan’ di kedai ice cream. 2 porsi ice cream kesukaan kami ada di depan mata. Saya agak kaget waktu dia mengajak makan ice cream. Apa kabar diet? Dia hanya tersenyum.

“Meskipun aku kurus dan cantik. Bukan jaminan dia bakal kembali ke aku. Oke lah. Meski aku kurus dan cantik. Kalau misalnya nih… amit-amit yah. Aku kecelakaan trus cacat, nggak bisa jalan. Apa dia akan tetap bersamaku? Aku ragu. Aku dalam kondisi sehat dan tanpa cacat saja dia masih belum menerima aku sepenuhnya. Cantik atau tidak, itu kan hanya urusan selera. Perspektif saja. Belum tentu orang lain akan berpendapat sama.” Saya ingin berteriak dan memeluknya erat-erat. She’s back. Andai saja ini bukan di tempat umum. Yang bisa saya lakukan hanya menggenggam tangannya dan mempersembahkan senyuman paling manis, yang saya punya. 

Beberapa bulan berselang. Allah menunjukkan kasih sayangnya pada umat yang selalu penuh cinta itu. Dia yang gemuk, tidak putih dan tidak cantik. Dia yang setelah diet mati-matian tapi tetap saja gemuk. Telah dipinang oleh seorang yang nyaris sempurna luar dalam. Ternyata Allah sengaja menyingkirkan lelaki itu agar sahabat saya tercinta ini bisa dipersandingkan dengan yang lain. Sangat jauh berbeda dari lelaki yang sudah menolak sahabat saya itu. Saya tahu bahwa setiap manusia tidak ada yang sempurna. Tapi biarkan saja hanya sedikit ketidak sempurnaan yang dimiliki suaminya. 

Saya terperajat ketika mengetahui bahwa sang suami telah lama menaruh hati pada sahabat saya. Tapi ada beberapa hal yang membuat beliau menunda untuk melamar. Dengan sabar dan perasaan cemas beliau menunggu saat yang tepat untuk mengajukan lamaran. Allah Maha Berkehendak. Yang buruk digantikan dengan yang lebih baik. Sesuatu yang seakan indah dihapuskan lalu diganti dengan yang jauh lebih indah. 
“Tahu gak? Suami gak suka klo aku kurus hihihi.” Saya hanya bisa tertawa. Hati saya riang bukan kepalang. Sahabatku, sudah selayaknya engkau mendapatkan anugerah indah ini. Kesabaranmu berbalas tunai saat ini. Seperti mimpi rasanya. Seperti cerita sebuah novel romantis. Tapi ini adalah benar adanya. Sebuah keajaiban yang datang setelah banjir air mata yang tiada henti.

Tak peduli apakau kau gendut, berkulit hitam ataupun merasa tidak cantik. Yakinlah bahwa diluar sana. Ada seseorang yang selalu merindukanmu dan tak sabar untuk segera menjemputmu. Dia yang selalu melihatmu dari jauh dan menunggu dengan sabar hingga saatnya tiba. Dia yang selalu menyematkan namamu dalam setiap doa-doanya. Dia yang selalu menempatkan dirimu sebagai prioritas. Dia yang menempatkan kebahagianmu sebagai impiannya. Dia yang sudah disiapkan oleh Allah, untuk menemanimu. Seumur hidupmu. Dia yang akan melengkapi segala tawa dan tangismu. Dia yang selalu menunggu senyuman di wajahmu. Bagi dia, engkau wanita yang paling cantik. Meski bagi yang lain tidaklah demikian. Kau harus tahu. setiap wanita adalah cantik adanya.

Share this on :

Post a Comment

 
Copyright © 2011. Berbagi Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template