Home » » Ibu SLJJ

Ibu SLJJ

Ibu SLJJ

Oleh : Ugik Madyo
Ibu saya adalah wanita karir sejati. Beliau mencurahkan seluruh hidupnya untuk bekerja hingga pensiun. Ketika saya duduk di bangku SMA, ibu dipindah ke divisi baru. Bidang pekerjaan yang baru ini mengharuskan beliau sering melakukan tugas ke luar kota bahkan luar negeri. Ibu dipindah ke bagian kesenian, salah satu tugas penting Beliau adalah mendampingi kontingen kesenian Jawa Timur. Ibu bertugas untuk menyiapkan segala persiapan seluruh kontingen termasuk akomodasi, transportasi dan konsumsi. Simple kelihatannya tapi percayalah, sangat menyita seluruh energi dan waktu Ibu selama bertugas. 
Kami di rumah paham betul tugas berat yang harus Ibu kerjakan. Kami sadar diri tak pernah mengharapkan Ibu sering-sering menghubungi selama diluar kota atau luar negeri. Ibu bepergian 4-7 kali dalam sebulan. Kami sekeluarga hanya mendapatkan jatah rata-rata 30% hari dalama sebulan. Tapi jangan dikira, bahwa Ibu akan jauh dari rumah, ketika sedang bepergian. Dimanapun ibu berada, beliau serasa dekat di rumah. Beliau selalu rajin menghubungi kami. Sewaktu belum mempunyai HP, beliau selalu hapal wartel atau telepon umum yang nyaman untuk ngobrol lama. 
Ibu selalu teratur menghubungi kami. Hmm… aslinya sih mengontol keadaan kami di rumah. Minimal tiga kali sehari ibu menghubungi rumah. Lebih tepatnya lagi menghubungi saya. Malam diatas jam sepuluh, ibu telepon untuk cek-ricek menu sarapan untuk esok pagi sekaligus absen siapa yang belum pulang. Yang belum ada di rumah, siap-siap saja untuk menerima teror telepon. Panggilan rutin sesi dua adalah setengah jam menjelang subuh –sejak saya SMA tidak pernah terlewat- Ibu menelepon saya untuk mengingatkan kembali segala tetek bengek yang harus disiapkan dirumah. Siang ibu kembali menghubungi untuk mengingatkan seragam Bapak atau adek yang harus disiapkan untuk besok hari, juga cek persediaan makanan buat malam. 
Semenjak saya SMA, kami memang tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Kami berempat bergotong royong. Kalau Ibu sedang tidak dirumah maka seluruh tugas Ibu di rumah, saya yang mengerjakan. Tak jarang saya keteteran juga sih. Tapi untung telepon Ibu selalu hadir. Kadang suka kepikiran, ternyata capek juga ya jadi Ibu rumah tangga. Kerjaan rumah nggak pernah ada berhentinya. Ada… saja. Eits, Itu tak seberapa. Yang paling bikin puyeng adalah mengatur uang belanja. Biasanya sebelum Ibu pergi selalu meninggalkan uang untuk keperluan rumah. Pesan Ibu selalu sama “Cukup gak cukup pokoknya harus cukup”. Ketika muncul keperluan tak terduga, saya diwajibkan untuk ‘mengakali’ uang belanja tersebut. Kalau memang sudah kehabisan akal. Saya harus beragumen panjang lebar untuk meminta dana tambahan. Meski  kadang saya mengambil jalan pintas dengan meminta langsung pada Bapak -tentu saja Ibu tidak akan berkenan dengan cara tersebut-. Pernah beliau marah hebat karena saya devisit terlalu banyak dalam mengelola uang.  Kata-kata beliau selalu terngiang “Kalau pegang uang habis melulu kasihan suami kamu nanti. Bikin skala prioritas jangan teledor.” Beberapa tahun kemudian saya baru sadar. Meski Ibu jarang berada dekat secara fisik, tapi beliau tak lalai untuk mendidik putrinya. Ibu memilih untuk memberikan praktek langsung tanpa teori. 

Hubungan saya dan Ibu memang unik. Disaat saya remaja dan memerlukan sosok beliau, kami malah sering berjauhan. Untunglah kita hidup di masa kejayaan HP. Kami lebih sering berkomunikasi dengan SMS. Yang jauh lebih efektif daripada telepon. Murah tentu saja. Selain itu Ibu bisa mencuri-curi waktu untuk ‘menghubungi’ saya. Yang terpenting kita berdua jadi lebih nyaman ‘berbicara’ panjang lebar dalam bahasa tulisan. Sering kita SMS-an nggak penting hanya karena kangen. Sering juga saling curhat atau berdebat panas yang membuat hati jadi kebat kebit geregetan. 

Satu hal yang pasti. Saya tidak pernah kehilangan Ibu meski beliau sering tak di rumah. Ibu tetap dekat dan mengajarkan banyak hal. Saya paham, ini bukanlah suatu pilihan hidup yang diinginkan Ibu sepenuhnya. Tentu beliau lebih suka tinggal di rumah bersama anak dan suami. Mengutip ucapan Bapak “Ibu sedang menjalankan tugas Negara”. Saya ikhlas mempunyai Ibu SLJJ. Karena saya tahu, meskipun kita berjauhan tetapi selalu dekat dihati. Meski tak ada kata yang terucap, hati kami saling berbicara. Ikatan Ibu dan anak yang tetap terjalin erat meski terpisah jarak dan waktu.

Share this on :

Post a Comment

 
Copyright © 2011. Berbagi Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template